Entri Populer

Rabu, 16 Maret 2011

LEGENDA BATU GANTUNG


LEGENDA BATU GANTUNG

              
      Lokasi Batu Gantung yang berada di tebing jalan menuju Kota Turis Parapat yang         
        dapat dilalui hanya dengan naik kapal,(Foto: Erlin Hasibuan)


P
ada jaman dahulu kala, masyarakat suku batak masih
mempercayai dan sangat menyakini bahwa suatu tempat – tempat tertentu masih memiliki kekuatan gaib, bahkan, ada kalanya tempat – tempat tersebut dapat mencelakakan seseorang apabila orang tersebut melintasi daerah yang masih dianggap sebagai Parsombaonan ( daerah angker/berbahaya dan keramat-red).
Daerah – daerah yang dianggap keramat itu, mungkin tidak hanya berada didaerah tanah batak saja, akan tetapi di daerah – daerah lainpun diyakini masih ada. Salah satu tempat yang dianggap keramat di Tanah Batak adalah “ BATU GANTUNG “ yang terletak di kawasan wisata Danau Toba, kota turis Parapat, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.
Batu Gantung ini berada di tepian air Danau Toba, arah sebelah timur laut persis dibawah jalan lintas Sumatera menuju Kota Parapat apabila kita datang dari arah kota Pematang Siantar, dan dapat dilihat dengan jelas di arah tebing yang curam dan jelas menggangtung pada suatu dinding lereng batu terjal, tampa suatu ikatan dan seakan akan bukan merupakan bagian dari lereng gunung tersebut.
Bahkan , tebingnya condong dan dapat terlihat dengan jelas dari atas kapal yang dapat disewa dari kota Parapat dan kapal ini hanya dapat melintas dan berputar sekali saja di dekat pinggiran danau tersebut.
Bagi masyarakat batak, batu gantung bukan hanya sebatas seonggak batu besar yang seolah – olah menggantung begitu saja pada salah satu sisi dinding bukit di pinggiran danau toba, konon dibalik keberadaannya, batu gantung ini terdapat kisah sedih tentang perjodohan muda – mudi suku batak kala itu dan masih dianggap keramat sampai saat ini.

          Alangkah indahnya pemandangan ini dapat dinikmati apabila kapal yang melintasi daerah tersebut dapat bersandar hanya sekitar 30 menit saja guna memudahkan orang – orang terutama para wisatawan yang melihat dari dekat batu gantung ini, memang sudah seharusnya pihak yang peduli tentang wisata danau toba untuk membangun pasilitas dermaga kecil disekitar daerah batu gantung ini seperti dermaga terapung.Pasilitas tersebut diyakini akan mampu untuk meningkatkan minat para wisatawan untuk datang kekawasan wisata danau toba yang pada akhirnya ikut mendongkrak pendapatan masyarakat sekitar.
Batu Gantung merupakan objek wisata yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Utara, bahkan tempat tujuan wisata ini berikut beragam legendanya yang melatarbelakangi munculnya Batu Gantung selama ini sudah cukup banyak diketahui oleh masyarakat luas.
Keingintahuan orang tentang kepopuleran dan keajaipan Batu Gantung ini terbukti dengan banyaknya orang yang mengunjungi kota turis Parapat setiap hari dan akan menyempatkan diri untuk melihat dari dekat bahkan menjadi salah satu tempat spesifik untuk berpoto sebagai kenang kenangan.Untuk menuju daerah Batu Gantung penumpang dapat naik kapal yang banyak tersedia di kota Parapat, untuk menjangkau lokasi tersebut cukup dibutuhkan waktu sekitar 30 menit saja..
Terjadinya batu gantung yang konon menurut cerita/legenda dari masyarakat suku batak adalah berawal dari salah satu desa perkampungan penduduk yang berada disekitar pinggiran danau toba yaitu “ HUTA SIBAGANDING “ yang tidak jauh jaraknya dari kota Parapat.
Di desa ini, konon hidup salah satu keluarga yang sehari – harinya bekerja sebagai nelayan, keluarga ini memiliki seorang putri tunggal yang sangat cantik nan jelita dan memiliki rambut panjang sampai kelutut kaki, kecantikan wanita ini sampai – sampai tidak ada yang menandingi disekitar perkampungannya.
Setelah dewasa, sang putri nan jelita ini menjadi rebutan para pemuda keturunan kerajaan dari kampung tetangga, bahkan banyak diantara mereka berhasrat untuk dapat mempersunting sang putri untuk dijadikan sebagai permaisuri kerajaan.Tampa sepengetahuan putri yang cantik dan rupawan ini, kedua orang tuanya ternyata telah menjodohkan anak satu – satunya ini dengan seseorang lelaki sekampungnya dan masih ada hubungan kekeluargaan.
Mengetahui perjodohan ini, sang putripun mulai merasa gelisah bercampur bingung, pada suatu hari, orang tua sigadis meminta kepada putri kesayangannya itu agar mau dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahandanya, alangkah terkejutnya sang putri mendengar perkataan orang tuanya itu, karena ia tidak mencintai laki – laki yang dijodohkan itu, namun orang tuanya tetap memaksa dan bersikeras untuk menjodohkan putrinya itu tampa memikirkan perasaan buah hatinya itu.

          Dengan perasaan sedih dan bingung, si gadis berparas cantik ini akhirnya pergi menyingkir kehutan yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka dan diikuti dengan seekor anjing piaraannya..Beberapa saat kemudian, orang tua si gadis yang baru saja pulang dari menangkap ikan di danau Toba, sangat terkejut karena ia tidak menjumpai putrinya itu berada dirumahnya lagi.Orang tua si gadis itupun kemudian mendatangi rumah – rumah tetangganya utnuk menayakan apakah mereka mengetahui dimana keberadaan putri kesayangannya itu.
Suasana semakin heboh di perkampungan ini, karena tidak seseorangpun warga dikampung itu yang mengetahui dimana keberadaan sang putri tersebut..Matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat, menandakan malam akan segera tiba, putri satu – satunya itupun belum juga kembali kerumah orang tuanya sehingga warga sekampung memutuskan untuk mencarinya bersama – sama.
Dalam suasana gelap, hanya dengan bermodalkan obor yang terbuat dari bambu, warga sekampung terus berupaya untuk mencari sang gadis sampai ke dalam hutan di sekitar perkampungan mereka, namun upaya upaya warga inipun tidak membuahkan hasil, ternyata si gadis mengetahui adanya sejumlah warga sekampungnya sedang mencari – cari dirinya. Mendengar suara – suara warga yang sedang sibuk melakukan pencarian, sang gadispun terus pergi menjauh sampai menuju pinggiran Danau Toba.
Karena sudah terasa terjepit dan rasa takut yang mendalam, tampa pikir panjang gadis cantik dan jelita inipun melompat dari atas tebing kedanau yang disusul dengan anjingnya, saat melompat kedanau itu, rambutnya yang panjang dan hitam tersangkut pada lereng terjal dan tergantung yang akhirnya menjelma menjadi batu, sehingga sampai saat ini dinamai “ BATU GANTUNG “ dan demikian juga dengan anjingnya ikut tersangkut yang kemudian berubah menjadi batu pula persis berada di sebelah kiri sang putri.
(erlin hasibuan/dari berbagai sumber)

     









LEGENDA NYI RORO KIDUL PUTRI BATAK

                                    

            Salah satu bentuk rumah batak yang disebut dengan nama “Ruma”.

N
YI RORO KIDUL atau disebut juga dengan penghuni Ratu Pantai Selatan adalah keturunan keraton yang bermukim di Pelabuhan Ratu, Yogjakarta Pulau Jawa. Konon menurut legenda atau turi – turian  bahwa Nyi Roro Kidul adalah seorang putri Batak keturunan dari Ompu Guru Tatea Bulan yang bernama BIDING LAUT.
          Guru Tatea Bulan adalah putra pertama dari Si Raja Batak, sedangkan Guru Tatea Bulan memiliki keturunan /anak sebanyak sepuluh orang terdiri dari lima orang putra dan lima orang putri. Kelima putra tersebut adalah Raja Uti, Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja, sedangkan kelima putrinya tersebut adalah bernama Biding Laut, Siboru Pareme, Sianting Haumasan, Sinta Haumasan dan Nantinjo.
          Guru Tatea Bulan beserta keturunannya tinggal bersama di kampung “ SIANJUR MULAMULA “ Kabupaten Samosir saat ini dan hidup dalam satu rumah, setelah anak – anaknya menjadi dewasa maka sudah seharusnyalah untuk membentuk rumah tangga yang baru, namun walaupun mereka sudah cukup dewasa tidak dapat kawin karena tiada seorang lelaki atau perempuan dari klan lain pun yang berada di kampung itu, selain dari keturunan Guru Tatea Bulan sendiri.
          Keturunan Guru Tatea Bulan yang bernama Saribu Raja dan Siboru Pareme adalah dua orang anak kembar (marporhas dalam masyarakat suku batak ) lain jenis, sedangkan dalam kepercayaan suku Batak hal ini harus senantiasa di jaga agar supaya jangan melakukan perbuatan terlarang ( perkawinan incest). Walaupun  sebelumnya Seriburaja telah kawin dengan Nai Mangiring Laut (Si Biding Laut ) yang juga masih saudaranya sendiri, dari segi kemanusiaan hal ini dapat dipahami betapa berat tekanan batin yang diderita oleh anak berusia dewasa, maka oleh karena tidak ada pilihan lain, sehingga mereka saling menggoda untuk melakukan hubungan suami istri atau mungkin ini sudah kehendak Mulajadi Nabolon ( Tuhan Yang Maha Esa ). kala itu.
          Dalam kehidupannya sehari – hari Sariburaja dan Si Boru Pareme tidak dapat lagi mengendelakan hawa nafsunya yang pada akhirnya mereka melakukan perkawinan incest, sehingga meyebabkan Si Boru Pareme berbadan dua atau hamil, aib yang menimpa keluarga Guru Tatea Bulan ini tidak dapat lagi ditutup tutupi, sehingga para adeknya bernama Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja telah mengetahui perbuatan abangnya Sariburaja sehingga mereka bertiga bermufakat untuk membunuh Sariburaja dan mengusir Si Boru pareme dari kampung mereka Sianjur Mulamula.
          Dengan adanya ancaman dari saudara-saudaranya Sariburaja yang akan membunuhnya karena perbuatan tercela ini, maka Sariburaja memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung kelahirannya serta meninggalkan saudara – saudaranya.
          Sebelum meninggalkan kampungnya, Sariburaja ternyata pergi menjumpai “BATU HOBON “ ( Batu hobon adalah batu yang diyakini sebagai tempat penyembunyian barang – barang pusaka Si Raja Batak / Guru Tatea Bulan bertempat di Sibungbung rumah Desa Limbong dan saat ini telah dikelola Pemerintah Kabupaten Samosir Sebagai salah satu tempat wisata yang dapat dikunjungi )untuk menyembunyikan barang – barang pusakanya.
          Namun sebelum Sariburaja pergi untuk meninggalkan keluarganya, iapun berpamitan kepada kakaknya bernama “ SI BIDING LAUT “ agar jangan mencarinya lagi, karena ia akan pergi meninggalkan mereka.
          Ternyata si Biding Laut tidak percaya akan kepergian Sariburaja dengan tidak menghiraukan pembicaraan mereka dan Siboru pareme yang sudah berbadan dua ( hamil ) itu diantarkanlah kehutan belantara yang disebut dengan ‘ NEGERI SABULAN “ sejauh tujuh hari tujuh malam lamanya dalam perjalanan dari desa Sianjurmulamula dengan maksud agar tidak dilihat orang dan agar Siboru Pareme pun tidak tau jalan pulang kembali karena aib yang menimpa keluarga mereka tidak diketahui.
          Hari demi hari dalam penantian kerinduan yang sangat mendalam, Si Biding Laut dalam kegelisahan menanti kepulangan kakandanya Sariburaja yang tak kunjung tiba, dengan rasa hati yang sedih dan pilu, akhirnya Si Biding Laut memutuskan untuk pergi mencari Sariburaja tampa tujuan yang pasti.
          Dengan kesaktian yang dimiliki Si Biding Laut yang dipelajarinya dari ayahandanya, maka daerah demi daerah dapat dilaluinya tampa ada hambatan apa – apa pun di dalam perjalanannya, dan pada suatu hari sampailah ia di pinggiran pantai Laut ( yang disebut daerah Sibolga saat ini ) namun tampa mendapatkan hasil, dimana gerangan Sariburaja bertempat tinggal.
          Si Biding Laut duduk termenung di bibir pantai sambil memandang ke ujung laut dan melihat sebuah pulau ( pulaui ini saat ini bernama Pulau Mursala/Marsahala di daerah Sibolga memiliki Pantai Lautan Hindia ) yang di kiranya tempat ini  tidak berpenghuni.
          Ternyata di pulau ini Si Biding Laut menjumpai orang – orang asing dengan memiliki wajah aneh – aneh, dan iapun memberanikan diri untuk bertanya kepada seseorang, manakala mereka mengetahui ada yang bernama Sariburaja didaerah ini, ternyata jawapan yang ia terimapun lain dari pada yang lain, sehingga si Biding Laut sangat marah, orang yang ditanyainya itupun sangat marah dan memberitahukan hal tersebut kepada rekan – rekannya di daerah tersebut, sehingga terjadilah perkelahian yang sangat dasyat, yang pada akhirnya Si Biding Laut kalah dan dibuang ke pinggiran Pantai laut Hindia, karena dikira Si Biding Laut telah meninggal dunia.
          Dengan ilmu kesaktian yang dimiliki Si Biding Laut, ternyata ia tidak meninggal dunia, ia hanya terombang ambing di lautan yang luas dan terbawa ombak ke bibir pantai pulau jawa Pengandaran Jawa barat, di daerah ini ternyata telah ada satu kerajaan yang memiliki Raja bernama “ SANSAKTI “.
          Karena kecantikan si Biding Laut yang tak tertandingkan di daerah itu, membuat hati raja Sansakti ingin membawanya kekerajaannya untuk dirawat. Karena ke cantikan si Biding Laut inilah membuat hati Raja Sansakti menjadikan si Biding Laut menjadi permaisuri kerajaan dan memberinya nama baru “ NYI RORO KIDUL “, walaupun para hulubalang kerajaan Sansakti tidak dapat menerima keputusan itu.
          Pada suatu saat terjadilah perselisihan sesama warga dengan para hulu balang kerajaan Sansakti karena keputusan raja Sansakti yang mempersunting si Biding Laut menjadi istrinya, membuat raja Sansakti sangat marah namun tidak dapat membendung perselisihan itu sehingga sang Raja Sansakti pada akhirnya meninggal dunia, sehingga pimpinan kerajaan jatulah kepada istrinya yang bernama si Biding Laut ( Nyi Roro Kidul ), walaupun para hulu balang kerajaan dan rakyatnya tidak dapat menerima hal itu, dengan perasaan hati yang sedih telah ditinggal suaminya raja Sansakti sehingga Nyi Roro Kidul pergi kepantai untuk menenangkan diri dan tidak pernah kembali lagi kekerajaan Sansakti sampai akhir hayatnya, pantai tersebut dinamai dengan Pelabuhan Ratu.
          Sehingga disebutlah namanya sampai saat ini “ Nyi Roro Kidul penghuni Ratu Pantai Selatan “ atau si  “ Biding Laut “.
( Erlin Hasibuan, dari berbagai sumber ).























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar